Kamis, 17 September 2015

CARA MENGOPERASIONALKAN ALAT TURBIDIMETER



CARA MENGOPERASIONALKAN ALAT TURBIDIMETER
            Turbidimeter merupakan sifat optik akibat dispersi sinar dan dapat dinyatakan sebagai perbandingan cahaya yang dipantulkan terhadap cahaya yang dating. Intensitas cahaya yang dipantulkan oleh suatu suspensi merupakan fungsi konsentrasi jika kondisi-kondisi lainnya konstan. Turbidimeter merupakan salah satu alat yang berfungsi untuk mengetahui atau mengukur tingkat kekeruhan air dalam sampel. Jenis – jenis turbidimeter antara lain berbentuk bench top, on-line instruments dan portable. Pada bagian  alat turbidimeter yaitu terdiri dari tombol standar angka kekeruhan, tempat sampel (untuk meletakkan botol sampel yang berisi sampel), tombol zero, tombol test, tombol Kal (untuk mengakses kalibrasi modus dan tetap aktif selama kalibrasi), display, botol standar, dan botol sampel.
            Prinsip umum dari alat turbidimeter adalah sinar yang datang mengenai suatu partikel ada yang diteruskan dan ada yang dipantulkan, maka sinar yang diteruskan digunakan sebagai dasar pengukuran. Alat akan memancarkan cahaya pada media atau sampel, dan cahaya tersebut akan diserap, dipantulkan atau menembus media tersebut. Cahaya yang menembus media akan diukur dan ditransfer ke dalam bentuk angka. Berikut tahapan cara mengoperasionalkan alat turbidimeter:
  • Botol sampel di lap dengan kain lembut untuk membersihkan.
  • Tekan tombol I/O. instrument akan terbuka kemudian tempatkan instrument pada suatu permukaan datar(kokoh) dan jangan memegang instrument ketika sedang melakukan pengukuran.
  • Masukkan cell sampel dalam ruang cell dengan mengorientasikan tanda garis pada bagian depan ruang cell.
  • Pilih daerah/range secara manual atau otomatis dengan menekan tombol RANGE.
  • Memilih mode sinyal rata-rata dengan menekan tombol SIGNAL AVERAGE. Dan monitor akan menunjukkan SIG AVG ketika instrument sedang menggunkan mode sinyal rata-rata.
  • Tekan READ. Monitor akan menunjukkan NTU, kemudian angka turbiditas akan muncul dalam NTU. Catat angka turbiditas setelah symbol lampu padam.
Adapun prosedur kalibrasi alat, harus dilakukan pemanasan selama 30 menit dengan memperhatikan beberapa tahap, yaitu
  • Tidak boleh memegang tempat sampel secara langsung, agar tidak ada sidik jari yang menempel.
  • Gunakan alkohol dan kain halus untuk membersihkan bagian luar kuvet.
  • Diletakkan di tempat yang rata, jangan diletakkan di tempat yang miring.
  • Setiap hari kalau perlu, dibersihkan dari debu.
Sebelum turbidimeter digunakan untuk menentukan tingkat kekeruhan dari sampel, terlebih dahulu turbidimeter dikalibrasi dengan menggunakan sampel standar dari turbiditans / kekeruhan 0,01 NTU sampai 7500 NTU. Hal ini dilakukan untuk menstandarkan kembali alat tersebut.

APLIKASI TURBIDITI METER UNTUK PENGOLAHAN AIR DI PLTU



APLIKASI TURBIDITI METER UNTUK PENGOLAHAN AIR DI PLTU
            Secara alami air mengandung berbagai jenis zat kimia dan material – material solid lainnya. Material – material tersebut akan memengaruhi proses yang akan digunakan di PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) untuk mengolah air lebih lanjut sehingga dapat terjaga kualitasnya. PLTU yang menggunakan air tanah mempunyai treatment air yang berbeda dengan PLTU yang mengambil air dari laut. Untuk mengetahui kadar kekeruhan (turbidity) yang terkandung di dalam air dapat menggunakan alat ukur turbiditi meter. Kekeruhan pada air memengaruhi tampilan kejernihan air. Pada sistem proses treatment air di PLTU dengan adanya kekeruhan tersebut dapat mengakibatkan terbentuknya deposit (kerak) dan sangat memengaruhi proses treatment-nya. Tutbiditi merupakan derajat kejernihan di dalam air yang disebabkan oleh bahan – bahan yang melayang,
            Pengukuran kekeruhan di PLTU dapat diukur menggunakan alat turbiditi meter dengan sistem pengontrolan automatis maupun manual. Alat ukur yang digunakan umumnya mempunyai presisi yang tinggi yang berdasarkan ISO 7027 dengan rentang pengukuran 0.0000 sampai 200.00 FNU. Untuk alat pengontrolan manual (handled) sampel cukup diukur ditempat lokasi pengambilan yang kemudian diukur kekeruhannya. Namun untuk memudahkan peninjauan kekeruhan air di PLTU diperlukan pengontrolan secara automatis. Metode pengukuran automatis ini sangat kompleks yang dilengkapi dengan sensor canggih dan sistem samping panel yang modern. Kelengkapan alat ukut turbiditi meter automatis ini disebut dengan monitoring turbidity measurement. Contoh salah satu alatnya adalah Monitor AMI Turbiwell 7027 made in Swiss.
            Sampel yang akan diukut menggunakan alat ini harus dalam kondisi laju alirnya pada rentang 20-60 L/jam pada suhu 40 oC. Selain itu, alat monitor AMI Turbiwell 7027 dapat mengkalibrasi secara automatis, sehingga memudahkan penggunaan alat dalam mengukur kakeruhan pada pengolahan air di PLTU.

ANALISIS OKSIGEN TERLARUT BAGIAN II | DISSOLVED OXYGEN METER| JUAL DO METER



ANALISIS OKSIGEN TERLARUT BAGIAN II
Kelemahan metode Winkler dalam menganalisis oksigen terlarut (DO) adalah dimana dengan cara Winkler penambahan indikator amylum harus dilakukan pada saat mendekati titik akhir titrasi agar amilum tidak membungkus iod karena akan menyebabkan amilum sukar bereaksi untuk kembali ke senyawa semula. Proses titrasi harus dilakukan sesegera mungkin, hal ini disebabkan karena I2 mudah menguap. Dan ada yang harus diperhatikan dari titrasi iodometri yang biasa dapat menjadi kesalahan pada titrasi iodometri yaitu penguapan I2, oksidasi udara dan adsorpsi I2 oleh endapan.

Metoda elektrokimia
Cara penentuan oksigen terlarut dengan metoda elektrokimia adalah cara langsung untuk menentukan oksigen terlarut dengan alat DO meter. Prinsip kerjanya adalah menggunakan probe oksigen yang terdiri dari katoda dan anoda yang direndam dalam larutan elektrolit. Pada alat DO meter, probe ini biasanya menggunakan katoda perak (Ag) dan anoda timbal (Pb). Secara keseluruhan, elektroda ini dilapisi dengan membran plastik yang bersifat semi permeable terhadap oksigen. Reaksi kimia yang akan terjadi adalah:

Katoda : O2 + 2 H2O + 4e  ==> 4 HO-
Anoda : Pb + 2 HO- ==> PbO + H2O + 2e

Adapun cara untuk menanggulangi jika kelebihan kadar oksigen terlarut adalah sebagai berikut:
§  Menaikkan suhu/temperatur air, dimana jika temperatur naik maka kadar oksigen terlarut akan menurun.
§  Menambah kedalaman air, dimana semakin dalam air tersebut maka semakin kadar oksigen terlarut akan menurun karena proses fotosintesis semakin berkurang dan kadar oksigen digunakan untuk pernapasan dan oksidasi bahan – bahan organik  dan anorganik.
Sedangkan cara untuk menanggulangi jika kekurangan kadar oksigen terlarut adalah dengan cara :
§  Menurunkan suhu/temperatur air, dimana jika temperatur turun maka kadar oksigen terlarut akan naik.
§  Mengurangi kedalaman air, dimana semakin dalam air tersebut maka semakin kadar oksigen terlarut akan naik karena proses fotosintesis semakin meningkat.
§  Mengurangi bahan – bahan organik dalam air, karena jika banyak terdapat bahan organik dalam air maka kadar oksigen terlarutnya rendah.
§  Diusahakan agar air tersebut mengalir.

ANALISIS OKSIGEN TERLARUT BAGIAN I | DISSOLVED OXYGEN METER | DO METER| TSS METER| ORP METER|



ANALISIS OKSIGEN TERLARUT BAGIAN I
            Analisis oksigen terlarut dapat ditentukan dengan 2 macam cara, yaitu :
Metoda titrasi dengan cara Winkler
Prinsipnya dengan menggunakan titrasi iodometri.  Sampel yang akan dianalisis terlebih dahulu ditambahkan larutan MnCl2 den Na0H - KI, sehingga akan terjadi endapan Mn02. Dengan menambahkan H2SO4 atan HCl maka endapan yang terjadi akan larut kembali dan juga akan membebaskan molekul iodium (I2) yang ekivalen dengan oksigen terlarut. Iodium yang dibebaskan ini selanjutnya dititrasi dengan larutan standar natrium tiosulfat (Na2S2O3) dan menggunakan indikator larutan amilum (kanji). Reaksi kimia yang terjadi dapat dirumuskan :
MnCI2 + NaOH  ==> Mn(OH)2 + 2 NaCI
2 Mn(OH)2 + O2 ==>   2 MnO2 + 2 H20
MnO2 + 2 KI + 2 H2O ==>    Mn(OH)2 + I2 + 2 KOH
I2 + 2 Na2S2O3 ==>  Na2S4O6 + 2 NaI
Metode Winkler
Prinsipnya dengan menggunakan titrasi iodometri.  Sampel yang akan dianalisis terlebih dahulu ditambahkan larutan MnCl2 den Na0H - KI, sehingga akan terjadi endapan Mn02. Dengan menambahkan H2SO4 atan HCl maka endapan yang terjadi akan larut kembali dan juga akan membebaskan molekul iodium (I2) yang ekivalen dengan oksigen terlarut. Iodium yang dibebaskan ini selanjutnya dititrasi dengan larutan standar natrium tiosulfat (Na2S203) dan menggunakan indikator larutan amilum (kanji). Reaksi kimia yang terjadi dapat dirumuskan :
MnCI2 + NaOH  ==>  Mn(OH)2 + 2 NaCI
Mn(OH)2 + O2 ==>   2 MnO2 + 2 H20
MnO2 + 2 KI + 2 H2O ==>    Mn(OH)2 + I2 + 2 KOH
\I2 + 2 Na2S2O3 ==>  Na2S4O6 + 2 NaI



Kelebihan dan Kelemahan Metode Winkler
Kelebihan Metode Winkler dalam menganalisis oksigen terlarut (DO) adalah dimana dengan cara titrasi berdasarkan metoda WINKLER lebih analitis, teliti dan akurat  apabila dibandingkan dengan cara alat DO meter. Hal yang perlu diperhatikan dala titrasi iodometri ialah penentuan titik akhir titrasinya, standarisasi larutan tio dan penambahan indikator amilumnya. Dengan mengikuti prosedur yang tepat dan standarisasi tio secara analitis, akan diperoleh hasil penentuan oksigen terlarut yang lebih akurat. Sedangkan cara  DO meter, harus diperhatikan suhu dan salinitas sampel yang akan diperiksa. Peranan suhu dan salinitas ini sangat vital terhadap akurasi penentuan oksigen terlarut dengan cara DO meter. Disamping itu, sebagaimana lazimnya alat yang digital, peranan kalibrasi alat sangat menentukan akurasinya hasil penentuan. Berdasarkan pengalaman di lapangan, penentuan oksigen terlarut dengan cara titrasi lebih dianjurkan untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Alat DO meter masih dianjurkan jika sifat penentuannya hanya bersifat kisaran.